Artikel

Catatan dan Artikel

Mensyukuri Nikmat atau Menikmati Syukur?

Pernah mendengar seorang teman berkata bahwa mensyukuri nikmat adalah wajar dan baik, tapi menikmati syukur adalah jauh lebih baik dan bermanfaat. Sekilas dua kalimat yang berkebalikan susunan katanya tersebut mirip dan mempunyai pengertian atau makna yang sama.

Mensyukuri nikmat adalah sesuatu yang wajar dilakukan semua orang yang telah mendapatkan suatu kenikmatan. Setiap orang yang telah mendapatkan nikmat berupa rejeki, kesembuhan dari sakit, pengalaman baru, teman baru, pekerjaan baru dan lain-lain akan mengucap syukur. Begitu juga dengan keluarga yang harmonis akan selalu mensyukuri nikmat yang telah diterimanya.

Mensyukuri nikmat atau bersyukur karena nikmat berlaku bagi semua orang tanpa memandang status sosial. Berlaku juga buiat mereka yang ‘beriman’ atau ‘tidak beriman’, bahkan ucapan syukur atas nikmat yang diterima juga akan meluncur dari seseorang yang dikatagorikan jahat. Seorang narapidana koruptor atau pembunuh akan mengucap syukur atas nikmat kebebasan yang diberikan kepadanya.

Seorang pencuri akan merasa bersyukur karena telah lepas dan selamat dari kejaran aparat. Bahkan seorang ayah yang tidak bertanggung jawab terhadap keluarganya, bisa mengucap syukur ketika mendengar anaknya sukses mencapai sebuah prestasi.

Mengucap syukur karena mendapat nikmat juga akan dilontarkan oleh mereka yang tidak percaya kepada Tuhan sekalipun, yaitu dengan berucap syukur kepada alam atau kepada kehidupan ini.

Sepertinya mensyukuri nikmat yang diterima sudah tertulis sebagai salah satu alur default algoritma. Hal ini membuat manusia sebagai mahkluk algoritma organik, dengan tingkat kesadaran normal akan otomatis melakukan alur algoritma tersebut, tanpa bisa menolaknya. Hanya saja tingkat syukur yang direaksikan akan berbeda-beda tergantung tingkat kesadaran manusia itu sendiri. Ada yang mengucap syukur secara ekspresif, tapi ada juga yang hanya diucap dalam hati sehingga tidak terlihat secara kasat mata.

Jadi, sebenarnya orang ‘bersyukur’ adalah semata-mata reaksi atas rasa nikmat, telah mendapatkan atau mengalami sesuatu yang menyenangkan atau membahagiakan dirinya.

Lalu, bagaimana dengan ‘menikmati syukur itu sendiri’? Bisakah seseorang menikmati atas reaksi yang dilakukannya sendiri? Apakah alur algoritma ini ada sejak semula?

Sepertinya, alur algoritma ini spesial dan tidak tersedia secara default sejak semula. Manusia harus mengusahakan untuk terciptanya alur algoritma ‘menikmati syukur’ secara pribadi. Karena alur algoritma ini spesial, maka bagi yang berhasil menanamkannya di jiwa akan mampu meningkatkan kualitas kehidupan dan kebahagiaannya. Hal ini disebabkan karena alur algoritma ‘menikmati syukur’ yang sudah berhasil tertanam akan berjalan secara otomatis pada diri orang tersebut.

Fakta menunjukan bahwa banyak orang tidak mampu membedakannya dan cenderung menganggap sama makna dari ‘menikmati syukur dan menyukuri nikmat’, yaitu menganggap sama-sama mensyukuri nikmat. Ini terjadi karena sangat sulit atau tidak tahu cara menikmati rasa syukur tersebut, yang mana baru akan muncul setelah kenikmatan itu hadir dirasakan.

Apalagi, kenikmatan tidak selalu hadir. Bahkan situasi buruklah yang lebih sering menimpa. Akibatnya banyak orang yang merasakan kesedihan dan keterpurukan dibanding perasaan syukur. Jadi, sangat wajar bagi mereka yang rasa syukur masih belum rutin dijalankan, belum mampu menikmati rasa syukur itu sendiri.

Akan tetapi, sejatinya kemampuan untuk menikmati syukur mempunyai nilai yang jauh lebih tinggi, meski sangat sulit untuk dilakukan. Memang, akan sangat mudah bersyukur di saat senang, tapi sangat susah bersyukur di tengah-tengah kondisi yang sedang terpuruk. Yang ada bukan perasaan bersyukur, tapi rasa sedih, marah, iri dan sejenisnya.

Namun, itulah yang harus dilalui untuk mendapatkan pengetahuan dan kemampuan baru, yaitu ‘menikmati rasa syukur’. Orang akan bisa menikmati syukur jika telah mengalami banyak rasa syukur dari berbagai kondisi yang ada. Saat kondisi sedang baik ataupun sedang buruk dan menderita, rasa syukur harus terus digulirkan.

Seperti artikel saya sebelumnya (Pengetahuan Agama, Sains dan Humanisme), perasaan menikmati sang syukur bisa didapatkan dengan menerapkan pengetahuan humanisme, yaitu dengan mengedepankan pengalaman dan sensitifitas.

Dicontohkan bahwa saat pertama kali minum kopi pahit tanpa gula. Akan sulit sekali mendapatkan dan menikmati kopi pahit tersebut. Namun, dengan ketekunan meminum kopi pahit setiap hari, dan dengan memberikan perhatian pada sensasi rasa kopi pahit tersebut, maka tidak dalam waktu lama, minum kopi pahit akan terasa nikmat.

Begitu juga dengan bersyukur. Jika dijalani terus menerus tanpa memperhitungkan kondisi yang sedang baik atau buruk, dan dengan tulus memberi perhatian pada setiap sensasi rasa syukur tersebut, maka tidak butuh waktu lama juga, akan bisa dinikmati perasaan syukur itu.

Orang yang sudah mampu menikmati rasa syukur, maka dia akan selalu bersyukur setiap saat, tanpa peduli dengan keadaan yang terjadi. Selama masih hidup, rasa syukur yang akan selalu terucap, karena itu memberi kenikmatan tersendiri. Orang yang selalu bersyukur akan hidupnya dan segala yang terjadi padanya, akan mampu menemukan sang syukur itu sendiri. Dia akan menikmati perasaan syukur dengan menggauli sang pemberi nikmat itu sendiri.

Jadi, bersyukur karena nikmat itu baik, tapi masih rata-rata. Menikmati syukur, itu baru luar biasa, karena akan mampu menyembuhkan secara cepat segala luka, yaitu iri, sedih, kecewa, dan marah, untuk kemudian menggantinya dengan kedamaian, ketenangan, kebahagiaan dan sukacita, di tengah-tengah badai kehidupan yang tidak menentu ini.

Dikutip dari kompasiana.com

Leave a Reply